Why I Wasn’t Enjoying Macau During My Birthday (Bahasa Indonesia)

thumbnail_fullsizerenderPernah gak sesekali kita berfikir ulang, apasih sebenarnya filosofi traveling yang selama ini dijalani?

Sewaktu ulang tahun saya bulan Juni 2015 lalu, saya memutuskan untuk pergi ke Macau, dengan harapan bahwa setidaknya akan ada sedikit kejutan menarik dari perjalanan yang saya jalani selama di Macau.

Namun, dikarenakan perjalanan terakhir saya motorbiking selama di Vietnam terasa begitu sangat mengesankan, saya merasa bahwa perjalanan ke Macau kali ini tidak memberikan perasaan atau memori spesial, terlepas daripada kebaikan host saya.

Lalu sepulangnya ke Indonesia, saya malah merasa hampa dan bertanya kembali ke diri sendiri, apa yang dapat saya pelajari dari perjalanan waktu itu?

1. “To be where you are now.” 

Selama di Macau, perasaan saya deg-deg an tidak menentu dikarenakan beberapa hal terlibat masalah pekerjaan. Pada saat itu saya sedang mempersiapkan seminar nasional dengan salah satu institusi negara yang paling sering muncul di TV. Saya sadar bahwa selama perjalanan, saya tidak berada “disana”.

I am not present.

Pikiran saya melayang kemana-mana, perut saya mual perasaan deg-degan dikarenakan rasa kekhawatiran berlebihan. 

Lalu saya menyadari, apa gunanya perjalanan ini jika saya tidak “berada disini” selama perjalanan saya di Macau kemarin? Saya harus menyadari bahwa pernyataan waktu merupakan kekayaan sesungguhnya ialah modal utama saya untuk mensyukuri hidup, bahwa semua orang dilahirkan sama, jika kita mulai melihat bahwa kekayaan yang sesungguhnya ialah orang-orang yang memiliki waktu. Menyadari bahwa melalui traveling, proses pembelajaran akan hidup, diri sendiri dan lingkungan adalah kegiatan yang tidak akan pernah berakhir.

2. “Everyone can travel, anybody can put their plans into action”
Banyak sekali teman-teman yang bilang kalau mereka merasa iri dan berkeinginan untuk dapat traveling. Banyak teman yang berfikir kalau traveling itu ekslusif, kalau traveling itu mewah dan mahal sehingga mereka tidak mampu untuk merealisasikan keinginan mereka.

Saya yakin, siapapun itu, selama mereka mau mengusahakan dan memprioritaskan, traveling is possible.

Satu hal juga yang saya yakini, you have to create the opportunity yourself.

Seseorang tidak akan mampu mendapatkan apa yang diinginkan jika mereka tidak menciptakan kesempatan tersebut. Saya baru bisa traveling semenjak bekerja, semenjak mindset saya akan traveling perlahan berubah, semenjak saya mulai memprioritaskan bahwa penghasilan saya disisihkan untuk traveling. It is the simplicity, that allows me to travel.

11229322_10206814940713931_5491661901013956572_o
Ruins of St. Paul’s

3. “Slow down. Let the experience happens.”
Take your time, dont force experiences on your travel.

Setiap memulai perjalanan, saya selalu merasa bahwa hal terbaik yang bisa saya persiapakan ialah keberanian, keinginan dan keteguhan. Sikap “acceptance” yang berarti menerima sangat berperan penting dalam memaksimalkan setiap momen-momen penting perjalanan.

Jangan pernah merasa bahwa kejadian tidak menyenangkan akan membuat perjalanan menjadi buruk.

Jika perjalanan adalah rangkaian dari banyaknya pembelajaran, lalu apa fungsinya jika kita hanya bisa merasakan hal-hal menyenangkan tanpa tahu apa makna pembelajaran dari hal sebaliknya?

4. “Quality over quantity.”
Sewaktu ingin berangkat ke Macau, beberapa teman menyarankan saya untuk sekalian menyebrang dan mengunjungi Hong Kong. Dengan keterbatasan waktu, saya tidak ingin memaksakan kehendak. Bagi saya, kualitas waktu yang saya jalani secara perlahan disatu negara/kota, akan jauh lebih baik jika saya memaksakan untuk menghabiskan sedikit waktu di banyak tempat tujuan.

You will experience differently after some time, not after one day.

Seberapa banyak waktu yang dihabiskan disuatu negara akan sangat mempengaruhi pengalaman yang kita rasakan di negara/tempat tersebut.

11731629_10206814945074040_3311803255097675519_o

5. “The journey is more important than the destination.”
Saya tau bahwa setiap orang memiliki tujuan dan maksud yang berbeda akan traveling. Tapi satu hal yang saya yakini ialah 99 persen pembelajaran selama traveling ialah pada saat proses perjalanan tersebut terjadi.

Banyak sekali dari kita yang membayangkan akan suatu tempat tujuan, membayangkan dan berekspektasi bahwa tujuan tersebut memiliki keindahan seperti di foto yang kita lihat. Disinilah banyak menimbulkan kekecewaan, karena ekspektasi yang begitu tinggi akan suatu hal sehingga kita mengabaikan proses yang lebih penting selama traveling, yaitu proses perjalanannya itu sendiri.

6. “Seek people.”

Walaupun saya solo traveler, setiap traveling, saya hampir selalu menggunakan Couchsurfing, sebuah komunitas untuk para pelancong yang mengharapkan melihat sebuah negara dari perspektif orang lokal dengan menumpang ditempat dimana mereka tinggal. Bahkan lebih sering, perjalanan saya menjadi sangat menyenangkan dikarenakan pertemuan dengan orang-orang tidak terduga.

Bertemu dengan banyak orang mengajari saya banyak hal yang tidak akan saya dapatkan jika saya hanya traveling untuk “sightseeing” atau melihat-lihat.

Percayalah bahwa keinginan untuk terus traveling adalah sebuah refleksi sikap yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa kita ingin terus “melihat”, ingin terus berkembang dari pengalaman dan selanjutnya menjadi lebih utuh sebagai manusia.

 

11207293_10206723337023896_5769930723388547240_n
This is how I celebrated my birthday, posing ridiculously in front of the ruins of St. Paul!

Deep Travel, Connecting on the Road and in Life (Bahasa Indonesia)

Jpeg
Jonathan, my Couchsurfing host in Puerto Princessa

Foto ini diambil sewaktu saya di Puerto Princesa bulan Februari tahun lalu. Disamping saya ialah Jonathan. Ia adalah orang asli Filipina dan memang tinggal di Puerto Princesa bersama adiknya dan beberapa pegawai toko roti kecil miliknya. Jonathan ialah satu dari sekian banyak host Couchsurfing yang membuat saya sadar untuk bersyukur atas adanya kesempatan untuk bisa traveling dan apa yang telah sebuah traveling ajarkan dalam hidup saya.

Pernah gak sih kita terbayang dan bertanya pada diri sendiri, sebetulnya apa makna traveling selama ini yang kita lakukan? Seberapa transformatif hal tersebut berpengaruh pada diri kita?

Pernah lihat tipe turis yang datang ke suatu tempat, ketemu orang lokal, foto-foto selfie, lalu kemudian pergi? Kalau gitu, pernah tanya gak ke diri sendiri, apa sih yang sebetulnya kita lakukan sewaktu kita traveling?

Yang saya sadari dan pahami ialah, kita bukan hanya sekedar turis sewaktu traveling. Kita seakan akan adalah duta besar representasi negara kita berasal, kita adalah pembuat dan pembawa pesan perdamaian, bahkan seorang pendongeng. Kita merepresentasikan pandangan yang biasanya tidak didapatkan di media. Kita bahkan mungkin satu-satunya orang dari negara kita yang pernah berkomunikasi dan bertemu mereka.

dsc03919
Chilling in the morning at Sin Ho Village, Vietnam

Saya kemudian sadar bahwa perjalanan bukanlah hanya untuk datang, melihat, merasakan dan lalu kemudian pergi. Perjalanan ialah komunikasi dua arah, suatu pengalaman interaktif. Kita gak pernah tau apa yang orang pikirkan dan rasakan. Mereka mungkin ingin berbicara, ingin tahu tentang kita, and bahkan bercerita tentang diri mereka sendiri sehingga kita dapat bertanya pertanyaan yang berarti dan bermakna, dan mengundang mereka untuk bertanya kembali kepada kita. Setiap jawaban jujur yang kita berikan merupakan suatu ajakan dan undangan terhadap pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang kemudian akan berakhir kepada deep stories exchanges and deep listening.

Kita dapat mencoba untuk merubah pola pikir kita dan menerima informasi baru dalam hidup kita. Kita pun dapat melakukan hal yang sama terhadap mereka. Hal ini ialah merupakan hal baru akan kemungkinannya transformasi dalam hidup. Kita dapat belajar dari banyaknya perbedaan, dari bagaimana seseorang menjalani hidup, membesarkan anak, tradisi menikah, dan upacara kematian.

Tapi…. bagaimana kalau kita gak bisa berbahasa Inggris? Gimana kalau kita gak bisa berbicara bahasa yang mereka gunakan?

Kita semua punya keperibadian yang berbeda, lalu bagaimana caranya agar kita dapat tetap terlibat dengan manusia lainnya sehingga “real exchange” tetap terjadi?

dsc03606
Stopping by at local market, North Vietnam

Yang pertama kali kamu lakukan adalah berhenti. Jangan lakukan apa-apa. Jangan lari, cukup berdiri dan observasi. Lihat orang itu. Jangan pandang dia sebagai satu dari sekian milyar manusia didunia, tapi pandang dan anggap dia sebagai satu orang, sebagai manusia secara utuh dan keseluruhan.

Biarkan diri kita untuk penasaran, tertarik dan kemudian lontarkan pertanyaan. Dengarkan baik-baik kepada jawaban mereka. Apapun yang melibatkan jawaban yang jujur menunjukkan ketertarikan yang tulus terhadap orang tersebut. Itulah bagaimana kita memulai.

Kita gak perlu tanya hal-hal berbau politik, tanya pertanyaan sesungguhnya yang bermakna. Tentang kita, tentang mereka, tentang dunia dan kehidupan darimana negara kita berasal.

Apa yang kita lakukan melalui cara ini ialah membawa ketenangan, perdamaian, dan rasa hormat terhadap dunia dan manusia didalamnya. Kita membawa kebahagiaan dari hal-hal kecil jika kita tertarik untuk mengetahui apa-apa yang tidak berhubungan dengan kita, apa yang bukan merupakan konteks kita, bukan cara kita melihat dunia atau cara kita dalam melakukan sesuatu. Dari detail-detail kecil itulah terdapat potensi besar untuk kita merasakan pengalaman dan belajar dari satu sama lain.

Setelah kita mengalami kegembiraan, kebahagiaan dan rasa penasaran serta ingin tahu tentang orang lain, kita sudah mengembangkan pola pikir seorang pelancong sejati, dan ini merupakan hal-hal yang dapat menginformasikan kehidupan sehari-hari kita. Hari-hari kita seperti sebuah perjalanan, sebuah kesempatan untuk memperluas wawasan kita dan membuka hati kita untuk menjadi pribadi yang lebih tulus dan penasaran.

dsc03533
With some students in Hanoi practicing their English

Sebuah perjalanan yang baik tidak pernah terpisah dengan kehidupan. Traveling adalah hidup. Di mana pun kita pergi, di mana pun kita berada, tujuannya adalah untuk kita belajar arti hidup yang bermakna dan mendalam.

I wish you the blessings of wisdom and friendship.

 

Life Lessons-Learnt from Solo Traveling (Bahasa Indonesia)

IMG_3880 (2)

Traveling is more than the seeing of the sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living.

Tepatnya sekitar 2 tahun sudah saya melakukan solo travel secara on dan off. Dari waktu ke waktu, banyak sekali hal-hal tentang pembelajaran hidup yang saya pelajari melalui hal ini.

Banyak banget yang masih takut atas idea traveling sendirian, takut akan hal-hal buruk yang terjadi. Well, bad things are gonna happen anyway wherever you are no matter what.

Intinya kita harus lebih bersiap diri dan juga mawas diri, tapi jangan jadikan hal ini menjadi penghambat mental block kamu untuk menjalani solo traveling.

Karena sesungguhnya melalui tantangan-tantangan inilah yang membentuk karakter kita, meningkatkan problem solving kita yang gak akan kita pelajari di sekolah mana pun.

Traveling teaches you a lot of stuffs that you will never find in any school.

Percayalah. Saya telah pelajari banyak perkara tentang diri saya, jauh dari apa yang saya sangkakan.  I have grown stronger mentally, developed, and become more independent.

Banyak hal-hal teknis yang mungkin akan menjadi pertimbangan kamu sebelum melakukan solo travel, tapi percaya deh it is soooo worth the struggle and sacrifice of your time and money.

FullSizeRender (4)

1. People are more softer, gentler and more helpful than you could imagine

Beneran deh, kamu akan selalu dikejutkan oleh kebaikan-kebaikan orang-orang yang kamu temui dari berbagai belahan dunia. Pasti ada aja yang namanya scam, kena tipu dan mungkin dompet dicuri orang.

Tapi percayalah bahwa kamu akan lebih banyak dipertemukan dengan orang-orang baik yang mau membantu, dan mengembalikan rasa percaya kamu terhadap sisi kemanusiaan.

Hal ini mengingatkan saya pada pengalaman tersesat berjam-jam di Manila, mencari rumah host saya yang susah terdeteksi dan terletak dipelosok.

Juga mengingatkan saya pada kebaikan orang Vietnam sewaktu ban motor saya pecah selama perjalanan dari Saigon menuju MuiNe.

Jangan takut kalau gak bisa Bahasa Inggris atau bahasa daerah setempat, karena pada kejadian aslinya, bahasa isyarat akan lebih banyak dipakai karena semua manusia memiliki sifat sosial yang sama, yakni saling membantu.

Percaya deh kalau dunia itu tidak semenyeramkan yang sering diberitakan di tv. Itulah gunanya traveling, kamu melihat kejadian suatu negara dari kacamata kamu sendiri.

2. You engage with locals on a personal level

Selama ini saya memang memilih untuk traveling sendiri. Dengan traveling sendirian, saya mampu berkomunikasi dengan orang lokal lebih dalam, tidak hanya sekedar “Halo! nama kamu siapa?”.

Dan kesempatan ini lebih banyak saya dapatkan ketika traveling sendirian, karena kalau dengan segrup teman-teman, kecenderungan kita ialah mengobrol hanya dengan orang-orang yang sudah kita kenal.

DSCN0423

3. You are free to do things as you please and it feels awesome

Motorbiking sendirian di Vietnam? Siapa takut! Sudah 2 kali saya melakukannya dan bener-bener nagih! Kapok? Enggak!

Saya yakin saya gak bakal bisa bebas melakukan ini kalau gak sendirian, karena motorbiking sendirian itu menantang seberapa jauh skill membaca peta, skill problem solving, skill menjaga ketenangan emosi disituasi-situasi yang gak terduga hahaha.

Bisa sih dilakukan secara bergrup, tapi kamu akan jauh lebih merasa bangga terhadap diri sendiri kalau kamu bisa ngalahin rasa ketakutan kamu.

Percaya deh, it feels so damn awesome to discover how powerful we are, that we are able to do things that we didn’t know we could.

4. You gain deep understanding on every destination you visit

Beda agama? Beda budaya? Beda bahasa? Bukankah hal itu yang sesungguhnya mengajarkan bahwa makin banyak perbedaan akan semakin indah?

Gagap bahasa dan lost in translation di suatu negara itu sudah sangat biasa. Malahan bakalan seru! Yang seharusnya bisa kita syukuri adalah kesempatan kita untuk melihat banyak hal-hal yang jauh berbeda dari apa yang biasanya kita lihat dirumah.

Isn’t it fascinating to learn something from other people? Kamu juga serta-merta akan belajar untuk menerima dan menghargai perbedaan.

Jujur, semenjak intensif traveling sendirian, saya tidak mudah percaya dengan isu-isu negatif dan banyak beredar didunia maya maupun pertelevisian karena saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri, dan memiliki kesempatan untuk memahami lebih jauh setiap destinasi yang saya kunjungi.

FullSizeRender (3)

Foto selfie ekspresi bahagia ini saya ambil sewaktu melakukan motorbiking di Vietnam yang kedua kalinya bulan Mei lalu. Ini namanya desa Nam Pay, rute dari Sapa ke desa nun jauh diatas pelosok pegunungan bernama Sin Ho. It brings so much happiness to discover ourselves through traveling.

5.  There is something liberating about traveling to a place where no one knows who you are

Yang mungkin banyak orang gak sadari ialah, adanya suatu rasa kebebasan mental ketika traveling sendirian, di suatu tempat dengan orang-orang yang sama sekali gak kenal dengan kita.

Hal ini susah untuk dijelasin lebih lanjut, cuma bisa dirasain sendiri dan kamu pahami.

Yang saya tahu, saya belajar banyak untuk menghargai diri sendiri dan orang lain yang sama sekali gak kita kenal dan secara tanpa sadar, we will become more gentler than we think we are.

6. Get comfortable at being alone in your solitude

Ini yang saya paling suka. Kesendirian sewaktu traveling itu mengajarkan diri saya untuk lebih mencintai diri sendiri. Nyaman dengan diri sendiri sewaktu traveling itu gak gampang loh!

Hal ini cuma bisa kamu sadari ketika solo traveling, karena you cannot count on anyone other than yourself. Dan hal ini menjadikan kamu untukmengeksplor lebih jauh tentang diri kamu.

Kalau kita sadari sebetulnya kita jarang banget memiliki kesempatan untuk betul-betul sendiri, waktu-waktu diam untuk berfikir reflektif.

Dikantor sibuk dengan kerjaan dan orang kantor, dirumah harus dengan keluarga, dan sebagainya. Ketika berada di negara orang, sendirian, kamu akan benar-benar sadar bahwa you are yourself bestfriend. You will learn to love own company, learn to love yourself little bit more.

FullSizeRender (5)

7. Distance makes you appreciate more all the important people in your life.

Pernah sadar gak ketika satu rumah dengan orang tua kita lebih sering beradu argumentasi dibandingkan jika kita tinggal jauh dari mereka?

Positifnya, kita akan jauh menghargai orang-orang yang kita sayangi ketika kita jauh dari mereka.

Jarak itu membuat kita sadar bahwa ketiadaaan kehadiran fisik seseorang, dalam hal ini baik keluarga, teman maupun pasangan terkasih, bahwa mereka merupakan bagian penting dalam hidup kita dalam membentuk siapa kita yang sesungguhnya.

Kita akan menghargai setiap waktu yang kita punya untuk bisa dapat kembali dihabiskan dengan orang terkasih.

8. You will be put out of your comfort zone so quickly in the right way

Traveling sendirian memaksa saya untuk menghadapi ketakutan-ketakutan yang saya punyai. Contoh nyatanya ialah sewaktu pertama kali mau motorbiking ke Vietnam.

Satu hari sebelum perjalanan, saya menghadapi rasa kecemasan luar biasa sampai gemetaran seluruh tubuh. Hal ini didukung dengan pemikiran-pemikiran dan rasa ketakutan yang timbul secara wajar karena motorbiking perdana saya.

Saya sempat berfikir untuk membatalkan perjalanan karena rasa takut luar biasa, takut kesasar, takut diapa-apain dan semacamnya.

Beberapa jam berlalu, saya cuma bisa mencoba untuk meyakini diri saya bahwa saya akan lebih menyesal jika tidak melakukan hal ini jika saya mengikuti rasa takut saya.

At the end, it is one of the most rewarding travel experiences I have ever had.

Hadapi ketakutan terbesarmu kamu, maka tidak akan lagi ada yang menjadi mustahil di dunia ini.

IMG_4040

9. More often than not, you will make new friends and will not be alone

Ini poin yang mesti diingat baik-baik bagi yang masih takut buat solo traveling. Kamu gak akan pernah sendirian! Percaya deh!

Well, mungkin akan ada waktu-waktu sendiri dan itu sebetulnya baik sekali karena balik lagi ke pembicaraan poin nombor 6.

Tapi kalau kamu masih traveling di tengah kota, tinggal di hotel-hotel atau dorm yang banyak travelers lainnya, saya yakin bahwa kamu akan menemukan banyak teman-teman baru.

Saya udah ngerasain ini banget dan pasti yang sudah pernah nyoba solo traveling setuju akan hal ini. Justru, amazing friend that still in touch with me are the ones whom I made during my travel.

Jadi gak akan ada alasan untuk bakal ngerasa kesepian, paksa diri kamu untuk berkenalan dengan orang-orang baru, keluar dari zona nyaman kamu seperti apa yang sudah dijelaskan di poin nomor 8.

Ini hanya beberapa poin yang bisa saya sampaikan dari sekian banyaknya pembelajaran hidup yang bisa saya dapatkan melalui traveling solo.

Traveling teaches you to be more humble as a human, realizing that we have so much capacity as a human being to do more than just what we do now.

Remember, traveling is not so much of a competition, jangan pernah merasa terintimidasi dengan orang-orang yang sudah mengunjungi banyak sekali negara.

Traveling itu bersifat personal, setiap orang memiliki fasenya masing-masing.

Open Road; Open Life

Processed with VSCOcam with c1 preset

Exactly in April, almost a year ago I traveled throughout Southeastern Vietnam by motorbiking. As I am reminiscing those beautiful moments, despite many near-to-death experience, I am forever grateful that I took the chance to travel differently by travel simply.

The good news is, I have just booked a ticket to Vietnam (again). Right after 6 months after my last travel to Cambodia, next month I will be back on the road. This time I will discover Northern part of Vietnam and spend more days to fully embrace every discovery I have during the journey. Traveling might not be for everyone, and it is truly okay if you dont travel. Everyone has their own vocation; something of that feeling that people look for purpose in life, about the relationship between us and God, our calling that is communicated through the yearnings of our soul. And traveling is my vocation.

10842281_10206154859972325_2524979650705630434_o

Over the year, I have come to realize that through travel, I seek for journeys and exploration. I have also realized that there is a fundamental difference between travel and tourism.

  1. Tourism is a multi-billion dollar business, travel that is sold as a commodity. We desire a destination so that we pay for it, and we expect a certain experience. We expect certainty. We go to the place and we have the experience. But really, you cant sell a travel experience. You cant buy an experience of a country.
  1. Real travel is when you take the open road and you accept things that come your way. Be it thrilling, joyful, difficult and stressful.

The problem with tourism is that it allows the market to decide the price of an experience. The experience of a travel on motorbike like this was so rich yet it only cost me 2 million IDR in total, including flights and accommodation.

My motor biking trip was uncertain, it wasn’t smooth at all. I had so many near-to-death experience and it became part of the journey. But this is traveling with uncertainty. Despite all the trouble all the way and the uncertainty, I am glad I deceided to travel 900kms by motorbike for 5 days. But life is like this.. We desire certainty but we are traveling in an uncertainty. And suddenly we depend on technology like how I depended on Google maps, to find my way from Saigon –Mui Ne – Da Lat. And only then when we have certainty we are relax and enjoy the experience.

During my the journey throughout Southeastern Vietnam, I was full of wonder. I guess the concept of wonder is essential and very mich important as it is in our human nature. Efficiency and technology is killing our sense of wonder which makes us want to travel in the first place. These days, travel is almost entirely predictable because of tourism is a business. We can look Eiffel tower on the internet and find 500 different pictures, so when we travel to Paris and see Eiffel Tower by ourselves, we aren’t experiencing the Eiffel tower, but comparing it to everything that technology has told us. We can book a hotel and read hundreds of reviews; we can even predict the weather through forecast. This means that we have lost something; we have lost something from the experience of travel.

10255974_10206154822371385_8151163900282849303_o

However, it is possible to gain certainty and maintain wonder. The key is to trust. The only way to gain trust is to travel. Riding motorbike all the way through Southeastern Vietnam taught me to trust God, strangers and myself. Most people are wonderful and trustworthy, and travel teaches us this constantly. This is a very important process for us. This is why I believe that travel is the greatest human freedom ever. The best story is the true story, which is like our life. We want to tell the story, we want to control the story, add certainty to it. But if we do that too much, not only we will delete the sense of wonder that we have about our lives, but maybe we are cancelling out other possibilities, another discovery that is far more enlightening for us individually.

My message is very simple, we need to plan less. Don’t be a tourist in our life, taking pictures as it happens. Instead, we need to travel. Don’t be a tourist, travel more plan less. Just because we can fly, doesn’t mean we always have to fly. Sometimes in life we need to take the best, and go slowly, and enjoy and embrace every discovery as it comes to us. I travel inefficient way possible and it taught me exactly what I wanted.

Processed with VSCOcam

My first 200-kms selfie!

 

How I Make Traveling Happen

wpid-fb_img_1440502497109.jpg

“What does it feel like to be present? To be here in the now and fully experiencing this moment. Free from any weight of the past or any anticipation of the future. Just free. Free to realize that only you can control how you feel. About anything. Free to see things for what they are and free to give your time and energy to what really matters.
Accept the fact that everything that makes up your world is there because you attracted it with your own thoughts. Realize that you can control your thoughts and emotions. There’s no big secret. Just choose to think better feeling thoughts. Listen to your emotions and chose to feel good. You can decide to be in a place of attraction and abundance.
What do you want to do in your life? What makes you tick? What makes you feel awe? Don’t be misled into thinking that you’re supposed to do anything. You are supposed to do only what you chose to do. The world is vast and full of possibilities. Follow your bliss. Get out of your comfort zone. Stop looking for reasons why you can’t and look for reasons why you can.”

I dream of seeing the world, experiencing the world around me. That’s the ultimate goal I have in mind since I was 10.

As I grew up, I often doubt myself knowing that this seem so unattainable. Not having had much growing up, my family are careful with money. We do not have that much of financial freedom to be honest. Not until 2014, I realized traveling isn’s simply only for the rich, but also for those who want to make it happen!

As a budget traveler, here’s is how I mantained my life so that I can afford to travel more often, and longer. Remember, if you can, you should!

  • BE MONEY SAVVY

Your decisions in daily live decide how much money you spent. Put aside such too glamoroues lifestyle, especially those money you spent for hanging out too often. SAVE SAVE AND SAVE! More importantly, if you are financial-savvy, turn those hard-earned money into building your passive income (short-time deposito, divident-paying stocks, shares, etc). If you are clear to what your main goals are, you will be focus on accomplishing that. This means majority of your money should be saved for your ultimate dream. Prioritize your dream, allocate your money accordingly!

11539231_10206814932673730_1798518020219417614_o

  • BE AN OPPORTUNIST

You can save a lot of money on flights just by booking the right booking websites, especially during their special promotions. Always delete your history after searching for tickets, try to use incognito tabs so that these ticket search engines wont be able to track your recent activities. In most cases, people keep searching and searching the tickets without paying attention to such details, hence increasing price. Remember, Tuesday is the cheapest flying date of the week. Take a good use of that!

In my case, I have used 90% of my travel flying with Air Asia, my trusworthy airline. I dont mind flying with basic facilities provided by low-cost airlines. If you are not a high-maintanance person, this shouldnt be your problem! LOL. Depending on your destination, try to seek budget airlines in every regions by also considering your time of arrival. Dont be so easily fooled by very cheap ticket but late night time of arrival because this means you will have extra spending for extra night stay and midnight taxi drive, assuming that there will be no bus left. Unless, if you dont mind staying overnight at the airport, like how I always do. :-p

  • BE A MINIMALIST

Always, I repeat, always, travel light. Meaning that you dont carry on too much stuffs on your backpack/carrier, you only pack essentials and basic needs. Always sort things out your things carefully so you wont overpack! Trust me, I have saved such amount of time and energy by traveling light.

dsc03468

  • BE YOUR OWN TEMPORARY RESEARCHER

A simple Google research of “How to afford travel?” will result approximately thousands, if not million, of results. Always do your research prior to planning your itinerary (although I never use one!), but remember that your every fundamental questions will always have it answers if you do Google research. Then, if you have a more specific quiries that you can’t seem to find the answers, then this is the time to ask on a public forum. In my case, I have joined several such as Backpacker Dunia, Nomads – a life of cheap and free travel, etc. Do find what’s best for your situation.

  • BE A STREET SMARTS FOR YOUR ACCOMODATION

In my travel experiences, I have used 95% of Couchsurfing when it comes to accomodation. You have to understand that although you dont have to pay for anything, this is one of true ways of staying with locals and make travel friends along the way. I have lost count of amazing Couchsurfers that I have encountered and still befriend until now. They were the ones who simply inspired me to just pack things and to start traveling. Remember that you have to truly understand how Couchsurfing works, do some research on that. The key to be hosted? Use your common sense. 😉

dsc03567

All in all, this is what  I can say:

“If you want to travel, do it; you have nothing to lose and everything to gain.”

Traveling Solo? Why Not? (Bahasa Indonesia)

???????????????????????

1. Keluar dari zona nyaman

Bakalan banyak banget tantangan yang kamu harus hadapi ketika traveling sendirian, dari keterbatasan bahasa sampai homesick. Tapi coba tebak deh, tantangan ini bakalan maksa kamu keluar dari zona aman kamu. Zona yang selama ini gak bikin kamu berkembang karena kamu terbiasa dengan rutinitas yang itu-itu aja, menggunakan bahasa Ibu kamu sehari-hari. Percaya deh bahwa dibutuhkan banyak tantangan untuk seseorang agar bisa lebih berkembang dan membantu diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.
2. It is empowering
Sebetulnya agak ragu dengan arti dari kata empowering yakni, memberdayakan. Saya rasa arti dan maknanya jauh lebih besar dari kata “pemberdayaan”. Traveling solo is empowering. Maksudnya, kamu bisa merasakan berapa sesungguhnya kemampuan kamu dalam melewati segala macam tantangan dari hal-hal kecil. Mulai dari perencanaan trip, bertahan selama di perjalanan, gagap bahasa, tersesat, gak cocok sama makanan dan budayanya, dan masih banyak lagi. Tapi justru hal-hal kayak begini yang bikin karakter dan kepribadian kita menjadi lebih “kuat”.
3. Bebas untuk menentukan cepat/lambatnya tempo perjalanan
Setiap orang punya pandangan dan pemikiran berbeda terhadap apa yang harus dilakukan ketika traveling. Ada yang suka jalan2 cepet2 dalam 3 hari harus melihat semuanya, ada yang suka menikmati proses dan berjalan lebih lambat. Kontradiksi ini terkadang dapat menjemrumuskan dan berakhir pada perbedaan argumentasi. Tapi kalau traveling solo sih, gak bakal ada yang namanya drama-drama, kamu bisa tentuin sendiri kamu mau apa dan bagaimana, serta cepat atau lambatnya tempo perjalanan kamu.
4. Kamu gak bakal kesepian selama perjalanan
Kesalahan terbesar ialah adanya asumsi bahwa traveling solo itu bakal mati gaya, kesepian dan akhirnya jadi galau. Salah banget! Traveling solo doesnt mean that you are going to be lonely for the entire duration of your trip. Dari stasiun kereta api, terminal bus, tempat makan, spot-spot turis, pantai, gunung, hostel, disemua tempat yang masih dihidupi oleh manusia, pasti akan ada minimal satu orang yang mau ngobrol bareng kamu. Nah, disini lah kamu punya kesempatan untuk berlatih kemampuan Bahasa Inggris kamu.
5. Punya kesempatan lebih besar untuk ketemu teman-teman baru
Kalau kalian jalan-jalan bareng temen genk, satu grup sama keluarga atau ya sama pasangan kalian, biasanya kita cenderung untuk nempeeeel mulu sama orang/grup tersebut. Akhirnya, kita gak bisa “aware” sama keadaan sekitar dan mungkin bakal kehilangan kesempatan untuk ngobrol-ngobrol sama orang lokal dan pelancong dari negeri lainnya. Bahkan, orang yang tertutup (introvert) pun akan mulai menjadi lebih terbuka, mudah untuk didekati (approachable) dan menjadi lebih sosial.
6. Fokus terhadap diri sendiri
Kepingin banget buat punya momen relaksasi dan “kabur” dari hiruk pikuk ibu kota? Traveling solo aja! Karena kamu gak perlu khawatir akan orang lain, bisa ngelupain pekerjaan, utang, atau cewe dan cowo yang bikin kamu galau. Fokus terhadap diri sendiri itu bukan berarti egois ya.
7. Lebih mandiri dan percaya diri
Masalah dan rintangan yang ada disetiap perjalanan gak mungkin banget untuk dihindari selama traveling solo, begitu pun traveling in group/traveling with partner. Poinnya adalah, hadapi dan coba selesaikan masalah itu. Gak hanya hal itu akan meningkatkan rasa percaya diri kamu, tapi juga bakal meninggalkan dampak positif untuk jangka panjang bahkan lama sampai perjalanan berakhir.
8. Lebih “aware” dengan lingkungan sekitar
Kalau lagi traveling bareng-bareng, pasti ujung-ujungnya kita heboh ngobrol haha hihi ketawa sendiri dengan teman-teman kita. Gak ada yang salah sih dengan hal itu, tapi coba deh traveling solo, kamu bakal lebih observasi ke lingkungan sekitar. Lebih memperhatikan budaya, orang-orang di negara destinasi. Hal-hal kecil pun jadi lebih bermakna.
9. Menjadi lebih spontan
Yakin banget 100% kalau traveling solo bikin kita menjadi spontanius, karena gak ada beban mikirin orang lain kalau ada tawaran keren sewaktu pejalanan. Bisa aja kan tiba-tiba kamu nemu traveling buddy dari berbagai negara ke destinasi yang gak kamu rencakan sebelumnya?
10. Menjadi lebih apresiatif terhadap orang terkasih
Nah, karena kita terbiasa jauh dari orang-orang terkasih, biasanya kita mulai menyadari seberapa berharganya mereka dalam hidup kita. Rasa kangen itu sangat baik karena kita perlahan akan menghargai dan apresiasi orang-orang terkasih didalam hidup kita ini.
11. Pencarian jati diri
Ini yang menurut saya penting banget. Traveling sendirian itu memberikan kamu kesempatan untuk menggali lebih dalam, dan mencoba untuk kenal lebih jauh siapa sih diri kamu. Bahkan kamu bisa menemukan bakat dan ketertarikan yang kamu gak pernah tau kamu punya sebelumnya.

After 10 trips, 17 destinations, 32 flights & countless blessings in one and half year!

It was in June 2014, the day I got on a plane, wondering if I was making the right decision or disastrous mistake. The fear of something horrible, terrible and unimaginably painful would happen to me for being a woman traveling on my own. The thought of being lonely and worried of feeling alienated in someone else’s country.N05A7352

I was wrong, completely wrong. Now, a day doesn’t go by without me being thankful that I decided to go.

Hitting the road with such little money has taught me and made me realized that I can travel differently, with such minimum budget and maximizing every way possible to keep on traveling. I put aside things such as glamorous lifestyles, prioritize what becomes my goal in order to afford the cost of traveling. I also, will be forever grateful for being able to experience the goodness of amazing people through Couchsurfing, to stay at local’s place, to be able to see the country on different perspectives and to learn how to be more appreciative and flexible.

After 10 trips, 17 destinations, 32 flights within one and half year, I know that…….

1. I learned so much about myself.
Basic survival with decision-taking such as “Is this the right way?”, “How am I going to get to my destination?”, “How to make him/her (as a host) to feel comfortable with me staying at their place?” “How much money should I spend on food in order to buy some more for the next few days?”, has given me a whole different perspective of myself. Overplanning, underplanning, expecting, wasting, overspending, underspending – I got to learn that traveling will always have its own dynamic. These taught me such useful lessons for the future, to be less harsh on myself when making wrong decisions for it is not our mistakes that define us, but our attitude towards solving them.
The more I know myself, the more I respect myself to be grown into someone I am right now.

2. Taking risks doesn’t seem so risky anymore.
Back in high school and college, I remember acknowledging that I only have certain few path to follow after graduating: applying for master degree, finding job, to get married, to have kids and to finally retire. Anything that is slightly adventurous or different from the usual seems so risky and impossible. But then I hit the road, meeting and got to converse with different types of travelers and people from all walks of life made me realise that other alternatives and all unimaginable possibilities seems more possible, doable and became real. Now I am no longer hard on myself and be afraid of making mistakes. I embrace every possibilities that there is knowing the fact that life is so much meaningful.

N05A8118

3. I can see through better and faster.
Having been on the road mostly by my own, meeting with total strangers along the way, having to decide in matter of seconds whether I would be okay to stay at someone else’s house has improved my ability and instincts to sense danger and non- danger. As I get to question myself with every step, I can trust myself even more. I can also trust much more easily. I become more reliant on my gut, which was the ability I didn’t used to have. Creating bonds and connections have become something naturally immediate considering I only spend an average time of 2-3 nights with every person that hosted me.

4. I enjoy my life with a clear conscience and healthier perspective.
I remember being such perfectionist towards everything in life. I was oftentimes hard on myself, blame on myself and things that didn’t work out as it was planned or as it is supposed to be. I insisted that life should be perfect and I can never be average, I became so ambitious and forgot that there will always be the Planner that knows what’s best and have decided which one that works for us. Facing with my own emotions and feelings, continuous streams of moments and unexpected things that happen, I learned that flexibility, compromising and appreciation are some of key to enjoy life. Every now and then, I feel that nothing that is ever so bad that it can’t get worse.

“Live, travel, adventure, bless and don’t be sorry”.